Revolusi Mental Dahulu, Smart City Kemudian


Berkenalan dengan Konsep Smart City

Gambaran apa yang terlintas dibenak Sobat manakala mendengar “Smart City?

Apakah suatu kota yang didalamnya dipenuhi oleh berbagai peralatan canggih? Sebuah kota yang masyarakat didalamnya melakukan aktivitas sehari-hari dengan teknologi modern seperti yang digambarkan di film-film? Ataukah sebuah kota yang segala sesuatu didalamnya mampu berjalan sendiri tanpa campur tangan manusia alias otomatis….?

Sebenarnya sah-sah saja bila kita memiliki pemikiran seperti itu, namun untuk saat ini mewujudkan secara nyata konsep “Smart City” seperti itu (khususnya di Indonesia) butuh waktu yang tak sebentar.

Perjalanan kita masih panjang Sobat…….

Kepala Bappenas sendiri dalam konferensi Smart Indonesia Initiatives Conference mengingatkan kepada Pemerintah kota dan Masyarakat agar tidak terjebak dengan kata ‘Smart City’.

Kenapa?  

Karena selama ini banyak orang sering mengidentikkan ‘smart city’ dengan kecanggihan informasi teknologi saja.

“Lebih dari itu, konsep ‘smart city’ sebenarnya adalah bagaimana mempercepat layanan publik serta meningkatkan produktifitas kota agar kota bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi (smart economy),” tuturnya, dalam pernyataan tertulis yang diterima Warta Kota, Senin (18/9/2017)..

Menerapkan Konsep Smart City di Daerah, Mungkinkah?

Dengan segala potensi dan kehebatannya, Siapa sih yang kemudian tak ingin jika daerahnya menerapkan konsep Smart City? Saya pun demikian. Saya ingin segera daerah saya berkembang dan semakin maju dengan menjadikannya kota pintar.

Tapi apakah bisa semudah itu…?

Hm… jujur saja, untuk Saat ini Saya merasa itu akan sulit, Sulit sekali.

Kenapa?

Karena sumber daya manusia yang belum siap.

Bukankah teknologi itu bisa diajarkan?

Memang benar, apapun latar pendidikan seseorang tidak akan menghalanginya untuk mahir dalam menggunakan teknologi, karena sejatinya yang dibutuhkan itu adalah berani mencoba dan waktu yang berjalan.  Menurut saya tidak ada masalah untuk semangat dan keinginan belajar dimasyarakat, karena mereka selalu penasaran dengan inovasi baru. Akan tetapi masalah sebenarnya yang seringkali muncul itu adalah “Minimnya Rasa memiliki dan Disiplin”

Seperti pemasangan lampu jalan bertenaga surya, pengadaan bak-bak sampah di berbagai tempat umum, pembangunan WC dan Fasilitas umum lainnya yang menjadi sia-sia dan tak terpakai akibat tangan jahil dan minimnya kepedulian masyarakat. Karena itu pula saya merasa konsep “Smart City” akan gagal jika saat ini langsung diterapkan.

Revolusi Mental, Langkah Pertama untuk Menerapkan Konsep Smart City

Agar Projek “Smart City” sukses kita tak bisa hanya meng “copy paste” konsepnya dari luar (apa lagi luar negeri) karena apa yang menjadi permasalahan di tiap daerah itu tak selalu sama.

“Seperti aplikasi Go-Jek misalnya yang hanya relevan di kota-kota dengan penggunaan sepeda motor yang tinggi. Sehingga jika akan diterapkan diluar negeri akan cocok di Ho Chi Minh City di Vietnam yang penggunaan motornya juga tinggi. Lalu bagaimana kalau aplikasi Gojek dipakai di Los Angeles? Ngapain?!  Sia sia bro….!”

Karena itulah menurut saya langkah pertama yang harus dilakukan pemerintah adalah dengan membangun “Taman Pintar”

-*Taman pintar

Yups… jadi intinya ini adalah taman yang punya fasilitas lengkap dan kekinian (ada wifi, spot foto, spot olahraga, spot santai/rekreasi, panggung, spot edukasi dll) sehingga mampu menarik minat/perhatian masyarakat dari berbagai latar belakang, Usia dan Profesi untuk berkumpul. Intinya taman ini adalah “Pusat kegiatan Masyarakat”

Ditaman ini pemerintah nantinya harus rutin membuat even, acara, diskusi atau silaturahmi sembari menyampaikan pentingnya Disiplin, Rasa memiliki sekaligus konsep Smart City agar masyarakat semakin paham dengan pentingnya hal tersebut. Butuh waktu memang, tapi bukankah itu lebih baik daripada tidak sama sekali…?

Ini Konsep Smart City ala Daerah Saya

Menindaklanjuti apa yang disampaikan oleh Kepala Bappenas

“Konsep Smart City diupayakan agar kota yang kita tinggali menjadi kota yang berkelanjutan dalam hal smart economy, smart human capital, smart governance, smart mobility dan smart living.”

Berikut ini adalah Beberapa ide saya untuk peng-aplikasian teknologi di daerah.

*-Meng Online kan Produk Lokal

Salah satu fungsi utama Taman Pintar adalah pusat kegiatan masyarakat, karena itulah lewat taman ini diharapkan pemerintah membentuk tim sekaligus jadwal rutin even UKM, Kuliner, Kesenian dll untuk kemudian dipromosikan lewat media Online. diharapkan dengan adanya kegiatan tersebut produk lokal dan kesenian lokal dapat terkekspos shingga mampu menarik turis dan meningkatkan penjualan.

*Aplikasi Seputar Kota

Semakin mudah masyarakat terhubung dengan pemerintah maka akan semakin mudah pula aspirasi dan saran tersampaikan. Agar hal tersebut dapat terwujud dengan efektif,  salah satu cara terbaiknya adalah dengan membuat aplikasi smartphonenya. Nantinya dalam aplikasi tersebut memuat berbagai informasi seputar Kota dan Desa seperti peta, tempat penting, Forum hingga nomer kontak penting Kota dan Desa.

Nah dengan adanya fasilitas seperti itu masyarakat akan lebih mudah berkomunikasi dengan pemerintah setempat untuk melaporkan berbagai keluhan dan saran.

*-Meningkatkan Kualitas lingkungan dengan Manajemen Sampah

Sudah tidak bisa dipungkiri lagi kalau sampah itu adalah suatu hal yang kerapkali menjadi bahan perdebatan. Pasalnya dampak yang dihasilkan Sampah itu begitu terasa (tak enak dilihat, tak enak dirasa, dan tak enak dihirup) karena itulah pemerintah harus tegas dalam menindak mereka yang sembarangan membuang sampah.

Tempat pembuangan sampah yang benar serta pengelompokan jenis sampah seringkali diabaikan oleh masyarakat, hal itu dibuktikan dari banyaknya sampah yang dibuang ke kali ataupun saluran air. Mirisnya lagi mereka yang menjadi pelaku pembuangan sampah sama sekali tidak merasa malu. “ Buang sampah di kali itu wajar” mungkin begitu pikir mereka.

Karena itu, lewat aplikasi “seputar kota” yang saya sebutkan sebelumnya warga bisa melaporkan mereka yang membuang sampah sembarangan tanpa takut (mungkin bisa dengan mengupload fotonya dsb). Dan mereka yang ketahuan melanggar akan mendapatkan hukuman (entah itu dipersulit proses admistrasinya, terhambatnya pembagian beras pemerintah dll).  Hal sebaliknya bisa diberikan kepada yang mau menyempatkan mengelompokkan sampah sesuai jenisnya. Untuk mereka ini nantinya akan diberikan poin tambahan dan kemudahan admistrasi.

*-Informasi Bencana Alam  terupdate dan terpercaya

Sebagai salah satu warga Lombok saya tahu betul bagaimana vitalnya peran informasi bencana alam (gempa misalnya) disaat kritis seperti waktu lalu. Bayangkan saja Sobat hanya dengan satu pesan HOAX saja mampu memicu berbagai kepanikan dikalangan masyarakat, karena itu sangat perlu pemerintah membuat portal informasi terpercaya dan mudah diakses agar masyarakat tidak terganggu oleh info HOAX. Salah satu caranya mungkin bisa di hubungkan dengan aplikasi smartphone “Seputar Kota” yang jelaskan sebelumnya.

Smart City bukanlah membuat kita modern hingga menjadi jauh dengan alam, sebab konsep Smart City yang sebenarnya adalah membuat kita modern sambil merangkul mesra alam.

Sebenarnya masih banyak ide yang ada di otak ini, namun karena keterbatasan waktu  saya hanya bisa menulis sebagian saja. 4 point tersebut adalah  yang menurut saya berada di prioritas teratas, semoga seluruhnya bisa terwujudkan. Aamiin aamiin.

Salam blogger dan salam Hoki.

Advertisements

4 thoughts on “Revolusi Mental Dahulu, Smart City Kemudian

  1. sepakat sama yang poin tentang info bencana, sumpah penting banget tuh keberadaan pusat info biar berita hoax nggak bisa bikin rusuh.

  2. “disiplin yang kurang” yaa itulah faktanya.
    sumpah gw paling kesel kalau liat ada orang naik mobil trus buang sampah keluar. Bah…! gimana mau maju cobak..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s